Minggu, 25 Desember 2011

Jeritan Batin Ibuku


Apa lantaran engkau adalah anakku
lantas kendali proteksiku boleh kukekangkan pada kebebasanmu

Apa lantaran engkau adalah anakku,
hingga kesalahan-kesalahanmu memenuhi ruang toleransi dalam hatiku

Apa lantaran engkau adalah anakku
Hingga semua maumu boleh merampas hak-hak manusiawi bapak ibumu

Tidak Anakku….



Sungguhpun engkau pernah menghuni rahimku
Namun aku bukan pemegang napas kehidupanmu

Sungguhpun adamu adalah pertaruhan nyawaku
Namun tidak adil bila kutitipkan mimpi-mimpiku ke pundakmu

Sungguhpun bening polos matamu tiada kuasa menolak setiap hendakku
Namun engkaulah nahkoda bagi haluan hidupmu sendiri

Sungguh anakku

Antara naluri keibuan dan nafsu keibuan laksana tiada sekat
Hanya kejernihan hati yang sanggup menyentuh bedanya
Untuk kemudian mengajakmu memahami realitas kehidupan

Mengajarkanmu prinsip, karena adakalanya dunia tidak berdiri dipihakmu
Mengajarkanmu harga diri, karena bisa jadi disuatu waktu dunia akan merayumu dan menawarkan pesonanya kepadamu
Mengajarkanmu tekad hidup, karena ada saatnya dunia begitu bernafsu untuk menjatuhkanmu

Anakku…
Ijinkan ibu belajar mencintaimu dengan benar
Meski dengan kesalahan yang berulang ulang...

''terima kasih ibu untuk segala apa yang kau beri untuk anakmu ini, sungguh namamu selalu ada dalam setiap lantunan doa-doaku''

Tidak ada komentar:

Posting Komentar