Seperti pena, yang tak habis menuliskanmu
tentang ikal rindu, yang mengkhayal di mataku
dan syurga kertas, merelakan tinta biru
menarikan wujud, mengartikan bayangbayang pilu
:kita hanyalah dua roh, yang tak mungkin mendekat
Sungguhkah kau mahu, kita terus berdiam?
Berkurun menyulam bicara, mungkin menumpahkan tinta
Ah apakah itu sebenarnya cuma sejarah?
Tak terajarkan indah, mungkin tak pernah
kerana tidak dirimu meski diriku: ingin tahu
bagaimana meninggalkan kata jejak, pada
lembut bibir dan perjalanan di akhir pekan...
seperti karma sendu, kita bertemu di jalan mati
yang serupa detik-detik, menyisakan titik pertemuan,
ini hanyalah kitab rumus. Apa yang kau harapkan?"
Jelas dan cukup, mengkhabarkan sebuah ketiadaan
by.Muhammad Novri alias Novri Bocah Ucak Ucak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar